Trauma Abdomen

Trauma AbdomenTrauma pada penduduk sipil masih tetap merupakan penyebab kematian pada seluruh kelompok umur terutama pada usia produktif yaitu kelompok umur dibawah umur 45 tahun. Lebih dari setengah pasien-pasien trauma merupakan akibat kecelakaan lalu lintas, selebihnya akibat terjatuh, luka tembak dan luka tusuk, keracunan, luka bakar dan tenggelam.

Trauma abdomen menempati peringkat ketiga sebagai penyebab kematian akibat trauma setelah cedera kepala dan cedera pada dada.

Trauma abdomen merupakan penyebab yang cukup signifikan bagi angka kesakitan dan kematian di Amerika Serikat. Trauma abdomen yang tidak diketahui (terlewatkan dari pengamatan) masih tetap menjadi momok penyebab kematian yang seharusnya bisa dicegah (preventable death.

Diagnosis dan penanganan yang tepat dari trauma abdomen merupakan unsur terpenting dalam mengurangi kematian akibat trauma abdomen. Pada pasien trauma bagaimana menilai abdomen merupakan salah satu bagian yang menarik. Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus mencakup deteksi dini dari kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyi pada abdomen dan pelvis pada pasien trauma tumpul.

Trauma tajam pada dada di antara nipple dan perineum harus dianggap potensial menyebabkan cedera intraabdominal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun metode apa yang terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma maupun status hemodinamik penderita.

Sebagian dokter (ahli bedah) menganggap bahwa ruptur organ berongga dan perdarahan dari organ padat akan menyebabkan peritonitis dan akan mudah diketahui tapi kenyataannya gejala fisik yang tidak jelas, kadang ditutupi oleh nyeri (shadowed by pain) akibat trauma ekstra abdomen dan dikaburkan oleh intoksikasi atau trauma kepala yang semuanya merupakan alasan utama terlewatkannya diagnosa trauma abdomen.

Sebagai tambahan, bahwa lebih dari sepertiga pasien – pasien trauma abdomen yang membutuhkan tindakan operasi segera (emergencies laparatomy) pada awalnya mempunyai gejala yang tidak khas (benign physical examination), sehingga klinisi yang kurang waspada menganggap bahwa tidak ada trauma abdomen.

Untuk dua mekanisme yang berbeda yaitu trauma tajam (penetrans) dan trauma tumpul (non penetrans) terdapat pendekatan diagnostik yang berbeda. Adanya luka penetrasi saja sudah menarik perhatian akan besarnya kemungkinan terjadi trauma pada organ – organ intra abdominal, sedangkan pada trauma tumpul biasanya terjadi multi sistem trauma yang menyebabkan diagnosis lebih sulit ditegakkan.

Agar hasil pemeriksaan baik, selain pemeriksaan fisik diperlukan alat bantu diagnostik. Alat bantu utama yang ada saat ini adalah Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL), Computed Tomography (CT), Ultrasonografi (USG), atau Diagnostic Laparascopy (DL).