Referat Kedokteran: Pengobatan, Komplikasi dan Prognosis Pertusis (Batuk Rejan)

Pengobatan Pertusis (Batuk Rejan)

Jika penyakitnya berat, penderita biasanya dirawat di rumah sakit. Mereka ditempatkan di dalam kamar yang tenang dan tidak terlalu tenang. Keributan bisa merangsang serangan batuk. Bisa dilakukan pengisapan lendir dari ternggorokan. Pada kasus yang berat, oksigen diberikan langsung ke paru-paru melalui selang yang dimasukkan ke trakea.

Untuk menggantikan cairan yang hilang karena muntah dan karena bayi biasanya tidak dapat makan akibat batuk, maka diberikan cairan melalui infus. Gizi yang baik sangat penting, dan sebaiknya makanan diberikan dalam porsi kecil tetapi sering. Untuk membasmi bakteri, biasanya diberikan antibiotik.

1. Antibiotika

a. Eritromisin dengan dosis 50 mg/ kgbb / hari dibagi dalam 4 dosis. Obat ini menghilangkan B. Pertussis dari nasofaring dalam 2 — 7 hari ( rata- rata 3- 6 hari) dan dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeksi. Eritromisin juga menggugurkan atau menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium kataralis, mencegah dan menyembuhkan pneumonia dan oleh karena itu sangat penting dalam pengobatan pertusis khususnya pada bayi muda.

b. apmpisilin dengan dosis 100 mg / kg bb / hari, dibagi dalam 4 dosis.

c. Lain-lain : rovamisin, kontrimoksazol. Kloramfenikol dan tetrasiklin.

2. Imunoglobulin

Belum ada persesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium kataralis. Ada peneliti yang mengatkan pemberian immunoglobulin menghasilkan pengurangan frekuensi episode batuk paroksismal, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa immunoglobulin tidak berfaedah. pemberian immunoglobulin pada stadium paroksismal sama sekali tidak berfaedah.

3. Ekspektoransia dan mukolitik.

4. Kodein diberikan bila terdapat batuk-batuk yang hebat sekali.

5. Luminal sebagai sedative.

Komplikasi Pertusis (Batuk Rejan)

1. Alat Pernafasan
Dapat terjadi otitis media ( sering pada bayi ), bronchitis, bronkopneumonia, atelektasis yang disebabkan surnbatan mucus, emfisema (dapat juga terjadi emfisema mediastinum, leher, kulit pada kasus yang berat), bronkiektasis, sedangkan tuberkulosis yang sebelumnya telah ada dapat menjadi bertambah berat.

2. Alat pencemaan
Muntah – muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi, prolapses rectum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya tekanan intraabdominal, ulkus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatis.

3. Susunan saraf
Kejang dapat timbul karena ganguan keseimbangan elektrolit akibat muntah – muntah. Kadang – kadang terdapat kongesti dan edema otak, mungkin pula terjadi perdarahan otak.

4. Lain – lain
Dapat pula terjadi perdarahan lain seperti epistaksis, hemoptisis dan perdarahan subkonjungtiva.

Prognosis Pertusis

Bergantung kepada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan saraf yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil.

Sebagian besar penderita mengalami pemulihan total, meskipun berlangsung lambat. Sekitar 1-2% anak: yang berusia dibawah 1 tahun meninggal. Kematian terjadi karena kekurangan oksigen ke otak (ensefalon anoksia) dan bronkopneumonia.