Referat Kedokteran: Menegakkan Diagnosis Epilepsi

Diagnosis EpilepsiDiagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk bangkitan epilepsi berulang (minimal 2 kali) yang ditunjang oleh gambaran epileptiform pada EEG.

Secara lengkap urutan pemeriksaan untuk menuju ke diagnosis epilepsi adalah sebagai berikut:

Anamnesis

Tahap pertama mengevaluasi penderita dengan kemungkinan epilepsi adalah menetapkan apakah penderita menderita kejang atau tidak.

Anamnesis yang lengkap seorang dokter dapat memperkirakan apakah seseorang benar menderita kejang atau tidak, dan juga perlu untuk menentukan tipe kejang atau jenis epilepsi tertentu.

Penentuan tipe kejang atau epilepsi sangat penting karena pengobatan penderita epilepsi salah satunya didasarkan pada tipe kejang atau jenis epilepsi. Anamnesis dapat dilakukan pada pasien atau saksi mata yang menyaksikan pasien kejang.

Sering penderita datang dalam keadaan tidak sadar, sehingga gambaran bangkitan sebagian besar berdasarkan pada anamnesis. Ini sering bergantung pada kepandaian pemeriksa untuk menentukan pola bangkitan dan kepandaian saksi mata dalam melukis bangkitan.

Untuk penentuan penyebab dari kejang, dokter harus menentukan apakah ada anamnesa keluarga dengan epilepsi, trauma kepala, kejang demam, infeksi telinga tengah atau sinus atau gejala dari keganasan.

Adapun pertanyaan yang penting untuk ditelusuri berupa:

  • Pola / bentuk bangkitan
  • Lama bangkitan
  • Gejala sebelum, selama dan pasca bangkitan
  • Frekuensi bangkitan
  • Faktor pencetus
  • Ada / tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang
  • Usia saat terjadinya bengkitan pertama
  • Riwayat pada saat dalam kandungan, persalinan / kelahiran dan perkembangan bayi / anak
  • Riwayat terapi epilepsi sebelumnya
  • Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga

Pemeriksaan Fisik Umum dan Neurologi

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, misalnya trauma kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus,  kecanduan obat terlarang atau alkohol dan kanker.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah:

EEG (elektroensefalogram)

Merupakan pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik di dalam otak. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memiliki resiko. Elektroda ditempelkan pada kulit kepala untuk mengukur impuls listrik di dalam otak. Setelah terdiagnosis, biasanya dilakukan pemeriksaan lainnya untuk menentukan penyebab yang biasa diobati.

EEG hanyalah suatu pemeriksaan, bukan penentu diagnosis pasti. Interpretasi gambaran EEG harus dilakukan dengan hati-hati. Pada sebagian pasien, digunakan teknik-teknik pengaktifan tertentu, seperti hiperventilasi atau stimulasi cahaya berkedip-kedip, untuk memicu munculnya pola listrik yang abnormal.

Bahkan setelah pemeriksaan EEG berulang, hasil tetap negatif pada hampir 20% pasien. EEG yang normal sering dijumpai pada anak dengan kejang tonik-klonik. Rekaman EEG digunakan untuk mengidentifikasi daerah-daerah otak spesifik yang terlibat dalam lepas muatan abnormal, dan data ini dikolerasikan dengan rekaman video.

Pemeriksaan Laboratorium

  • Pemeriksaan darah meliputi hemoglobin, leukosit, trombosit, hapusan darah tepi, elektrolit (natrium, kalium, kalsium, magnesium), kadar gula darah, fungsi hati (SGOT, SGPT, Gamma GT, Alkali fosfatase), ureum, kreatinin dan lain-lain atas indikasi. Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk:
  • Mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah
  • Menilai fungsi hati dan ginjal
  • Menghitung jumlah sel darah putih (jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi)
  • Pemeriksaan cairan serebrospinal bila dicurigai adanya infeksi SSP
  • Pemeriksaan-pemeriksaan lain.
  • Dilakukan bila ada indikasi misalnya adanya kelainan metabolik bawaan.

EKG (elektrokardiogram)

EKG dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan irama jantung sebagai akibat dari tidak adekuatnya aliran darah ke otak, yang bisa menyebabkan seseorang mengalami pingsan.

CT – Scan dan MRI

CT –scan dan MRI dilakukan untuk melihat ada tidaknya neuropati fokal. MRI lebih disukai karena dapat mendeteksi lesi kecil (misalnya tumor kecil, malformasi pembuluh, atau jaringan parut) di lobus temporalis.

Pungsi Lumbal

Kadang dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak.

Diagnosis Banding Epilepsi

Differensial diagnosis (diagnosis banding) dari epilepsi tipe bangkitan mioklonik adalah:

  • Absence seizure
  • Epilepsi Benign pada anak
  • Epilepsi lobus frontalis
  • Kejang tonik-klonik