Seputar Penyakit Epilepsi

Penyakit EpilepsiEpilepsi adalah suatu kelainan di otak yang ditandai adanya bangkitan epileptik yang berulang (lebih dari satu episode). Epilepsi tipe bangkitan mioklonik adalah syndrome epilepsi umum idiopatik yang ditandai sentakan mioklonik, kejang tonik-klonik umum, dan kadang-kadang kejang yang hilang.

Di Amerika Serikat, risiko terkena epilepsi mioklonik juvenile pada populasi umum yakni 1 kasus per 1000-2000 orang. Dari keseluruhan epilepsi, 5-10% orang menderita epilepsi ini. Epilepsi ini lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria.

Etiologi dari epilepsi tipe bangkitan mioklonik sama saja dengan epilepsi parsial maupun umum. Terdiri dari idiopatik, herediter, genetik, kongenital, metabolic, infeksi, trauma, neoplasma, kelainan pembuluh darah dan keracunan.

Gejala klinis berupa gerakan mioklonik seperti terkejut pada saat bangun tidur yang diikuti kejang general tonik klonik dicetuskan oleh: suara, kejutan, photic stimulation, perkusi dan saat serangan terjadi gangguan kesadaran sebentar, disertai gerakan involunter yang aneh dari sekelompok otot, terutama pada tubuh bagian atas (bahu dan lengan) yang disebut myoclonic jerking.

Untuk menegakkan diagnosis dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan neurologi dan pemeriksaan penunjang berupa EEG, pemeriksaan laboratorium, EKG, CT Scan, MRI, dan punksi lumbal.

Differensial diagnosis dari epilepsi tipe bangkitan mioklonik adalah Absence seizure, Epilepsi Benign pada anak, Epilepsi lobus frontalis, Kejang tonik-klonik.

Penatalaksanaan pada penyakit ini dibagi 2 yaitu:

  1. Pengobatan medikamentosa berupa pemberian  Fenitoin, Karbamazepim, Fenobarbital,
  2. Pengobatan psikososial berupa pemberian penerangan bahwa dengan pengobatan yang optimal sebagian besar akan terbebas dari kejang.

Prognosis epilepsi bergantung pada beberapa hal, diantaranya jenis epilepsi, faktor penyebab, saat pengobatan dimulai, dan keteraturan minum obat. Pada umunya prognosis epilepsi cukup baik. Pada epilepsi dengan tipe bangkitan mioklonik, prognosisnya sangat buruk jika ia disebabkan oleh anoksia.

Daftar Pustaka

  1. Octaviana, P. Epilepsi. In: Scientific Journal of Pharmaceutical Development and Medical Application Vol. 21 (MEDICANUS). 2008. P. 121-124
  2. Cavazos, J. Epilepsy, Juvenile Myoclonic. In: www.emedicine.com. 2007
  3.  Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, I., Setiowulan, W. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga. Jakarta. Media Aesculapius FKUI. 2001. Hal. 27-33
  4. Mark, B. Seizure Disorders. In: MERCK manual. Second Edition. New York. Merck & Co. Inc.2003. P. 447-454
  5. Tjahjadi, P., Dikot Y., Gunawan, D. Gambaran Umum Mengenai Epilepsi. Dalam: Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press. 2005. Hal. 119-127
  6. Karceski, S. Juvenile Myoclonic Epilepsy. In: www.neurology.org. 2009
  7. Marjono, M, Sidharta, P. Dasar-Dasar Pemeriksaan Neurologik Khusus. Dalam: Neurologi Klinis Dasar. Edisi 13. Jakarta. Dian Rakyat. 2008. Hal. 447-448
  8. Lombardo, C. Gangguan kejang. Dalam: Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta. EGC 2005. Hal.1157-1166
  9. Adamolekun, B. Seizure Disorders. In: www.merck.com. 2009
  10. Carpenter, C. Eplilepsy. In: CECIL Essentials of Medicine. Sixth Edition. 2008
  11. Wilkinson, I. Epilepsy. In: Essential Neurology, Fourth Edition, P. 193-211
  12. Pinzon,R. Karakteristik Prognosis Epilepsi. Dalam: Dexa Media, Jurnal Kedokteran dan Farmasi. No. 3, Vol. 19, 2006,  Hal. 134-137