Terapi Panas Untuk Mengatasi Ejakulasi Dini

Ejakulasi dini mempengaruhi 20 sampai 38 persen pria, hal ini menjadi disfungsi seksual para pria yang paling umum di seluruh dunia.

Pilihan pengobatan yang tersedia untuk saat ini masih terbatas, termasuk oral medication, seperti inhibitor serotonin reuptake yang selektif tetapi memiliki efek samping pada seluruh tubuh dalam jangka waktu yang panjang, topical anesthetics, dan terapi perilaku.

Namun studi terbaru dari University Hospitals Case Medical Center mengatakan, bahwa ‘terapi panas’ dapat menjadi solusi yang lebih tepat dalam mengatasi ejakulasi dini. Prosedur ini disebut dengan modulasi image-guided neurothermal. Terapi baru ini bekerja dengan mengaktifkan kembali saraf yang mengirimkan sinyal kenikmatan ke otak selama melakukan seks.

Pertama-tama, pasien dibius secara lokal dan dengan dosis yang kecil, Kemudian pasien menjalani computed tomography (CT) untuk membimbing elektroda kecil seukuran jarum ke saraf belakang penis yang ada di panggul, saraf ini mengontrol sensitivitas dan menghubungkannya ke sumsum tulang belakang untuk menyampaikan sinyalnya ke otak.

Gelombang radio akan sesekali dipancarkan melalui elektroda tersebut untuk memperkecil sensasi yang dibawa oleh saraf. Terapi ini bertujuan untuk menghasilkan gangguan yang cukup pada saraf, sehingga dapat menunda ejakulasi tanpa merusak kemampuannya untuk menyampaikan sinyal kenikmatan.

Kemampuan dalam pengiriman pesan ke otak akan tertunda selama berhubungan seks, sehingga para pria bisa bertahan lebih lama di tempat tidur.

“Kami sangat bersemangat karena ini adalah studi pertama di bidangnya dari seluruh dunia,” kata J. David Prologo, MD, peneliti utama dari studi ini yang juga seorang ahli radiologi di University Hospitals.

“Ini adalah kondisi umum bagi para pria, dan mereka memiliki pilihan yang sangat terbatas. Jika kami dapat menunjukkan bahwa terapi lokal ini dapat membantu, maka hal ini akan menjadi sebuah pilihan rawat jalan untuk mengendalikan gejala-gejala dari kondisi yang telah dihindari oleh para pria selamanya,” tambahnya.

Studi yang didanai oleh Neurotherm ® dan bekerja sama dengan University Hospitals Case Medical Center ini telah diuji coba di University Hospitals Case Medical Center, Cleveland, AS. Terapi ini juga perlu adanya pengulangan setelah beberapa bulan, agar saraf mempunyai kapasitas yang cukup untuk memperbaiki gangguan dengan ‘terapi panas’.

Dr. Prologo, yang juga seorang asisten profesor dari divisi Vascular and Interventional Radiology di Case Western Reserve University School of Medicine mengatakan, bahwa prosedur ini dapat memulihkan saraf dari waktu ke waktu, jadi efek yang ditimbulkan dari terapi ini tidak menjadi permanen.