Askep Pada Pasien Hematochezia

Loading...

INFOKEDOKTERAN.COM – Pernahkah Anda mengalami saat buang kotoran, Anda merasakan adanya darah segar yang jatuh dengan kotoran Anda? Jika ia maka besar kemungkinan hal itu adalah hematochezia. Mengapa hal ini terjadi? Sebab adanya perdarahan di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari lambung, usus, hingga anus. Lokasi sumber perdarahan tergantung karakteristik berak darah.

askep-pada-pasien-hematocheziaPenyebab dari hematochezia ini adalah berasal dari saluran cerna bagian bawah. Nama penyakit yang mendasarinya adalah hemoroid (wasir), infeksi kuman seperti amuba, tifus, disentri yang berat, kanker usus besar, radang usus besar menahun oleh sebab penyakit autoimun (inflammatory bowel disease).

Upper GI saluran (biasanya kotoran hitam):

  • Pendarahan lambung atau ulkus duodenum
  • Gastritis
  • Varises esofageal
  • Mallory-Weiss air mata (air mata di kerongkongan dari muntah kekerasan)
  • Trauma atau asing tubuh
  • Usus iskemia (kurangnya aliran darah yang tepat ke usus)
  • Vascular malformasi

GI rendah saluran (biasanya merah atau bangku merah, berdarah):

  • Wasir
  • Anal fissures
  • Divertikular pendarahan
  • Infeksi usus (seperti enterokolitis bakteri)
  • Vascular malformasi
  • Radang usus
  • Tumor
  • Colon polip atau kanker usus besar
  • Trauma atau asing tubuh
  • Usus iskemia (kurangnya aliran darah yang tepat ke usus)

Manifestasi Klinis

  • Keluar darah segar dari anus sebelum 14 jam
  • Lemas, pusing, pucat
  • Konstipasi
  • Nyeri Perut

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan awal yang harus dilakukan adalah pemeriksaan tinja dan colok dubur. Pemeriksaan lanjutan yang perlu dilakukan adalah kolonoskopi. Kolonoskopi merupakan pilihan dalam diagnosis dan terapi perdarahan saluran cerna bawah. Polip juvenis dapat diterapi dengan polipektomi melalui kolonoskopi, tindakan hemostasis lain seperti skleroterapi, elektrokauterisasi, laser dan ligasi banding dapat dilakukan pada kelainan pembuluh darah kolon.

Pengobatan

Pengobatan yang dilakukan adalah perbaikan keadaan umum, karena pada penderita ini keadaan badan agak lemas karena kekurangan darah dalam waktu yang lama. Pengobatan definitif disesuaikan dengan penyebabnya. Pada beberapa kasus dapat terjadi perdarahan yang banyak sehingga diperlukan tindakan bedah untuk mencari sumber perdarahan dan menghentikannya atau pada kasus yang tidak dapat dioperasi perlu tindakan radiologi intervensi untuk memberikan injeksi koagulasi pada fokus perdarahan.

Konsep Dasar Keperawatan

Riwayat mengidap :

  • Penyakit Hepatitis kronis, cirrochis hepatis, hepatoma, ulkus peptikum
  • Kanker saluran pencernaan bagian atas
  • Riwayat penyakit darah, misalnya DIC
  • Riwayat penggunaan obat-obat ulserogenik

Kebiasaan/gaya hidup :
Alkoholisme, kebiasaan makan

Pengkajian Umum

Intake : anorexia, mual, muntah, penurunan berat badan.
Eliminasi :
BAB : konstipasi atau diare, adakah melena (warna darah hitam, konsistensi pekat, jumlahnya)
BAK : warna gelap, konsistensi pekat
Neurosensori : adanya penurunan kesadaran (bingung, halusinasi, koma).
Respirasi : sesak, dyspnoe, hipoxia
Aktifitas : lemah, lelah, letargi, penurunan tonus otot

Pengkajian Fisik

Kesadaran, tekanan darah, nadi, temperatur, respirasi
Inspeksi :
Mata : conjungtiva (ada tidaknya anemis)
Mulut : adanya isi lambung yang bercampur darah
Ekstremitas : ujung-ujung jari pucat
Kulit : dingin

Auskultasi :
Paru
Jantung : irama cepat atau lambat
Usus : peristaltik menurun

Perkusi :
Abdomen : terdengar sonor, kembung atau tidak
Reflek patela : menurun

Studi diagnostic
D. Pengkajian Khusus
Pengkajian Kebutuhan Fisiologis

Oksigen
– Yang dikaji adalah : Jumlah serta warna darah hematemesis.
– Warna kecoklatan : darah dari lambung kemungkinan masih tertinggal, potensial aspirasi.
– Posisi tidur klien : untuk mencegah adanya muntah masuk ke jalan nafas, mencegah renjatan.
– Tanda-tanda renjatan : bisa terjadi apabila jumlah darah > 500 cc dan terjadi secara kontinyu.

Jumlah perdarahan : observasi tanda-tanda hemodinamik yaitu tekanan darah, nadi, pernapasan, temperatur. Biasanya tekanan darah (sistolik) 110 mmHg, pernafasan cepat, nadi 110 x/menit, suhu antara 38 – 39 derajat Celcius, kulit dingin pucat atau cyanosis pada bibir, ujung-ujung ekstremitas, sirkulasi darah ke ginjal berkurang, menyebabkan urine berkurang.

Cairan

Keadaan yang perlu dikaji pada klien dengan hematemesis melena yang berhubungan dengan kebutuhan cairan yaitu jumlah perdarahan yang terjadi. Jumlah darah akan menentukan cairan pengganti.

Dikaji : macam perdarahan/cara pengeluaran darah untuk menentukan lokasi perdarahan serta jenis pembuluh darah yang pecah. Perdarahan yang terjadi secara tiba-tiba, warna darah merah segar, serta keluarnya secara kontinyu menggambarkan perdarahan yang terjadi pada saluran pencernaan bagian atas dan terjadi pecahnya pembuluh darah arteri. Jika fase emergency sudah berlalu, pada fase berikutnya lakukan pengkajian terhadap keseimbangan intake output.

Pengkajian ini dilakukan pada klien hematemesis melena yang disebabkan oleh pecahnya varices esofagus sebagai akibat dari cirrochis hepatis yang sering mengalami asites dan edema. Pemberian cairan infus yang diberikan pada klien. Output urine dan catat jumlahnya per 24 jam. Tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit yang menurun, mata cekung, jumlah urin yang sedikit. Untuk klien dengan hemetemesis melena sering mengalami gangguan fungsi ginjal.

Nutrisi

Dikaji :
Kemampuan klien untuk beradaptasi dengan diit : 3 hari I cair selanjutnya makanan lunak.
Pola makan klien
BB sebelum terjadi perdarahan
Kebersihan mulut : karena hemetemesis dan melena, sisa-sisa perdarahan dapat menjadi sumber infeksi yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Temperatur

Klien dengan hematemesis melena pada umumnya mengalami kenaikan temperatur sekitar 38 – 39 derajat Celcius. Pada keadaan pre renjatan temperatur kulit menjadi dingin sebagai akibat gangguan sirkulasi. Penumpukan sisa perdarahan merupakan sumber infeksi pada saluran cerna sehingga suhu tubuh klien dapat meningkat. Selain itu pemberian infus yang lama juga dapat menjadi sumber infeksi yang menyebabkan suhu tubuh klien meningkat.

Eliminasi

Pada klien hematemesis melena pada umumnya mengalami gangguan eliminasi. Yang perlu dikaji adalah :
Jumlah serta cara pengeluaran akibat fungsi ginjal terganggu. Urine berkurang dan biasanya dilakukan perawatan tirah baring. Defikasi, perlu dicatat jumlah, warna dan konsistensinya.

Perlindungan

Latar belakang sosio ekonomi klien, karena pada hematemesis melena perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai penegakan diagnosa dan terapi bagi klien.

Kebutuhan Fisik dan Psiologis

Perlindungan terhadap bahaya infeksi. Perlu dikaji : kebersihan diri, kebersihan lingkungan klien, kebersihan alat-alat tenun, mempersiapkan dan melakukan pembilasan lambung, cara pemasangan dan perawatan pipa lambung, cara persiapan dan pemberian injeksi IV atau IM.

Perlindungan terhadap bahaya komplikasi :

Kaji persiapan pemeriksaan endoscopy (informed concern).
Persiapan yang berhubungan dengan pengambilan/pemeriksaan darah.

Diagnosa Keperawatan yang biasa muncul adalah:

Defisit volume cairan sehubungan dengan perdarahan (kehilangan secara aktif) Potensial gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan hipovolemik karena perdarahan. Gangguan rasa nyaman: nyeri sehubungan dengan rasa panas/terbakar pada mukosa lambung dan rongga mulut. atau spasme otot dinding perut. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya. Kecemasan sehubungan dengan penyakitnya.

Loading...