Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit ANTHRAX

Loading...

Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia.

Hewan tertular akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar. Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang.

Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.

Dasar kelainan : Nekrosis lokal akibat toksin atau bakteriemia

I. Diagnosis

Masa inkubasi : 2 -5 hari.

A. Keluhan pokok

Keluhan umum :

  1. Demam
  2. Sefalgi
  3. Malese
  4. Mual muntah

Tergantung dari lokasinya :

  1. Kulit (Antrhrax Cutaneus)
    – Pruritus
    – Papul yang tidak sakit
  2. Paru (Antrhax paru “woolsorter’s disease”)
    – Sesak
    – Batuk-batuk
    – Tersumbat di hidung, kerongkongan dan larings.
  3. Gastrointestinal
    – Mual muntah
    – Nyeri abdomen
    – Diare bercampur darah

B. Tanda Utama

  1. Lesi vesikel dengan nekrosis hitam pada bagian tengah, dikelilingi cincin eritema dan edema.
  2. Kongesti jaringan mukosa
  3. Tanda lain sesuai lokasi infeksi

C. Pemeriksaan Laboratorium

  1. Pemeriksaan Sputum
  2. Kultur dari jaringan nekrosis lalu diwarnai Gram atau flouresen

D. Pemeriksaan khusus : –

II. Komplikasi

  1. Sepsis
  2. Meningitis
  3. Endokarditis

III. Panatalaksanaan

a. Terapi Umum

  1. Istirahat
  2. Diet
  3. Medikamentosa
    – Obat Pertama : 

    1. Penisilin G 2 juta unit/6 jam hingga tanda-tanda edema hilang
    2. lalu dengan pemberian peroral selama 7 – 10 hari.
    3. Eritromisin/tetrasiklin 4 x 500 mg bila alergi pinisilin.

    – Obat alternatif : –

b. Terapi komplikasi : –

IV. Prognosis

Mortalitas :

  1. Antrax Cutaneus : 10 – 20%
  2. Antrax paru : 100%
  3. Antrax gastrointestinal : 50%

Bila terapi cepat dan tepat mortalitas dapat diturunkan.

Loading...