Perubahan Cairan dan Elektrolit Selama Pembedahan

Loading...

INFOKEDOKTERAN.COM – Pasien bedah memerlukan penggantian dari PV dan ECV yang hilang sekunder pada luka bakar, edema, asites dan sekresi gastrointestinal. Luka atau luka bakar edema dan cairan asites adalah kaya protein dan mengandung elektrolit yang konsentrasinya mirip plasma.

Jika ECV adekwat dan fungsi ginjal dan kardiovaskuler normal, semua sekresi gastrointestinal dapat diganti menggunakan larutan Ringer laktat atau NaCl 0,9%; Jika fungsi ginjal dan kardiovaskuler berbahaya, lebih tepat diperlukan sperlunya.

Perubahan Cairan dan Elektrolit Selama Pembedahan

Substansial yang hilang dari cairan gastrointestinal memerlukan penggantian dari kalium, magnesium dan phospat.

Kehilangan gastris kronik dapat menyebabkan hipokloremik alkalosis metabolik dapat diperbaiki dengan NaCl 0,9%; diare kronik dapat menyebabkan hipokloremik asidosis metabolik dapat dicegah atau dikoreksi dengan infus cairan yang mengandung bikarbonat atau substrat bikarbonat (misalnya laktat).

Penggantian cairan yang hilang pada saat operasi harus seimbang untuk mengurangi fungsi akut IF menyertai trauma, perdarahan dan manipulasi jaringan.

Sebagai contoh, sebaliknya subyek sehat menerima natrium tidak menjalani operasi saat menjalani pembedahan gaster atau saluran empedu memperlihatkan berkurangnya ECV sekitar 2 L dan 13% menurunnya kecepatan filtrasi glomerulus.

Bedanya, pasien yang mendapatkan cairan Ringer laktat untuk menjaga ECV dan meningkatkan kecepatan filtrasi glumerulus sampai 10%.

Percobaan selama syok hemoragik, natrium dan air terakumulasi di intraseluler, sebagian karena kegagalan fungsi membran sel. Adanya syok menyebabkan secara bergantian fungsi membran sel dan konsentrasi natrium intraseluler tampak normal pada sistem hemodinamik yang kembali stabil.

Pasien diawasi selama 10 hari pertama setelah resusitasi dari trauma masif yang menunjukkan peningkatan 55% volume IF. Pada kelompok dengan pengurangan takaran osmotik, ratio dari IF terhadap volume darah meningkat, pada beberapa pasien melebihi 5 : 1.

Berdasarkan beberapa pertimbangan, pedoman telah dikembangkan bagi penatalaksanaan kehilangan cairan selama proses pembedahan formula paling sederhana, memberikan penambahan cairan dan penggantian dari perkiraan kehilangan darah; 4 mL-1kg-1h-1 dari larutan Ringer laktat atau NaCl 0,9% untuk prosedur trauma ringan, 6 mL-1kg-1h-1 untuk trauma sedang dan 8 mLkg-1h-1 untuk trauma berat.

Suatu konsekuensi penting dari ekspansi IF adalah mobilisasi dan kembalinya cairan yang berkumpul ke ECV dan PV. Hal ini diistilahkan “deresusitasi”.

Pada kebanyakan pasien mobilisasi terjadi kira-kira pada hari ke-3 post operasi. Jika sistem kardiovaskuler dan ginjal dapat secara efektif mentranspor dan mengekskresikan cairan konsekuensi fisiologis tidak penting. Jika, tidak hipervolemi dan tidak terjadi edema paru.

Pemberian Cairan Hipertonis

Suatu alternatif ideal untuk larutan kristaloid dan koloid yang lazim adalah tidak mahal, menyebabkan edema perifer atau edema paru yang minimal, akan menimbulkan efek hemodinamik secara terus menerus dan akan tetap efektif jika diberikan dalam volume kecil. Hipertonis, larutan hipernatremia dikombinasikan dengan koloid nampaknya memenuhi kriteria tersebut.

Hal yang menarik dari resusitasi hipertonis menurut Velasco dkk yang menggunakan volume kecil (6,0 mL/kg) dari NaCl 7,5% hipertonis sebagai resusitasi pada anjing yang mengalami pendarahan.

NaCl hipertonis mengembalikan tekanan darah sistolis dan cardiak output dan peningkatan aliran darah mesenterika menjadi lebih besar dibandingkan kontrol, semua binatang bertahan, walaupun, osmolalitas serum setelah penanganan melebihi 330 m Osm/kg, tidak ada binatang menunjukkan efek berlawanan yang diakibatkan hipertonisitas akut. Mekanisme larutan NaCl hipertonis memperbaiki hemodinamik adalah menambah PV.

Larutan hipertonis dapat juga memperbaiki mikrovaskuler dan fungsi jantung.

Larutan hipertonis berefek pada hemodinamik serebral, pada sebagian karena hubungan timbal balik antara osmolitas plasma dan cairan otak. Selama resusitasi pada syok hemoragik dengan larutan Ringer laktat, ICP meningkat, tetapi ICP tetap tidak berubah jika NaCl 7,5% pada volume cukup sebanding untuk memperbaiki sistim hemodinamik.

Perdarahan pada binatang percobaan akibat trauma otak cairan otak kurang dari otak yang tidak mengalami trauma (tetapi mirip trauma otak) sesudah resusitasi dengan larutan hiperosmotik. Anjing dengan massa lesi intracranial, larutan hipertonis mengembalikan aliran darah regional serebral lebih baik dibanding larutan hipotonis.

Berbicara mengenai komplikasi susunan syaraf pusat akibat hipertonisitas dan hipernatremia akibat hipertonis NaCl, Wisner dan teman-temannya menunjukkan penggunaan energy phospate nuclear magnetic resonance spectroscopy, menurunkan pH intraseluler setelah resusitasi NaCl hipertonis dibandingkan dengan larutan Ringer laktat.

Akan tetapi penurunan ini tidak ditandai dengan glikolisis anaerobik, tetapi meningkatkan konsentrasi ion hidrogen intraseluler yang menyebabkan sel dehydrated secara osmotik. Pada manusia resusitasi dengan NaCl hipertonis, secara akut meningkatan natrium serum dari 155 sampai 160 mEq/L terbukti tidak merugikan.

Myelinolisis pontine central, komplikasi dari koreksi cepat yang berat, hyponatremia kronik tidak dapat diobservasi trial klinik pada resusitasi hipertonis.

Komplikasi non central nervous system juga dapat terjadi. Huang dkk belakangan ini membandingkan penggunaan NaCl hipertonis dengan larutan Ringer laktat yang memerlukan resusitasi untuk luka bakar akut.

Gagal ginjal, yang mana konstribusi angka kematian tinggi terjadi pada 40% pasien yang mendapatkan NaCl hipertonis dibandingkan dengan 10,1% pada kelompok Ringer laktat.

Akan tetapi, ini menunjukkan penemuan terbaru pada pasien luka bakar, terdapat hipotesa bahwa hipernatremia sebagai akibat NaCl hipertonis menyebabkan disfungsi ginjal yang bisa menyebabkan kegagalan ginjal.

Sayangnya, perbaikan sistem hemodinamik yang dihasilkan dari resusitasi hipertonis berlangsung singkat. Setelah perbaikan awal, aliran darah otak dan kardiak output menurun dengan cepat setelah diberikan resusitasi dosis tunggal pada anjing yang mengalami hipovolemik dengan salah satu NaCl 0,8% atau NaCl 7,2%.

Strategi untuk memperpanjang efek sistemik lebih 30 – 60 menit meliputi terus-menerus infus NaCl hipertonis, berikutnya Infus darah atau cairan konvensional, atau penambahan koloid pada resusitasi hipertonis.

Perdarahan pada binatang percobaan, penambahan dextran 6,0%, NaCl 7,0 sampai 7,5% meningkatkan lamanya perbaikan hemodinamik ketika dibandingkan dengan volume NaCl hipertonis, Natrium bikarbonat atau Natrium Klorida/Natrium asetat.

Belakangan ini penelitian secara random, oleh Vassar dkk untuk mengevaluasi efek dari 250 ml natrium klorida dengan dan tanpa dextran 6% dan 12% 70 untuk resusitasi pra rumah sakit bagi pasien-pasien hipotensi trauma.

Penambahan dextran tidak memperbaiki tekanan darah perubahan jika hanya pemberian dengan NaCl hipertonis. Pada kelompok kecil pasien dengan Glasgow Coma Scale (GCS) Score < 8, tetapi tanpa trauma anatomi yang berat, nampaknya menguntungkan dengan resusitasi hipertonis. Matox dkk melaporkan perbaikan bertahan pada pasien trauma dengan resusitasi awal NaCl 7,5% dan memerlukan pembedahan.

Observasi terakhir berhubungan dengan yang memerlukan resusitasi hiperosmotik pada perdarahan yang tidak terkontrol, dimana pengembalian tekanan darah meningkatkan pendarahan dan dapat mengakibatkan kematian.

Pada pasien dengan trauma penetrasi pada torso, Bickell dkk melaporkan cepatnya resusitasi pra rumah sakit tidak memperbaiki angka kematian dibandingkan dengan resusitasi awal hanya setelah tiba di rumah sakit.

Keberhasilan klinik dari resusitasi hipertonis dibandingkan dengan cairan konvensional tidak sempurna karena banyak studi pra klinik membandingkan efek bolus tunggal dari percobaan dan cairan kontrol.

Bedanya resusitasi cairan di klinik berlanjut sampai tidak ada tambahan cairan yang diperlukan. Sebuah percobaan yang merupakan simulasi resusitasi di klinik pilihan yang wajib di antara bermacam-macam tujuan yang diperoleh pada resusitasi. perbandingan dari 2 atau lebih regimen resusitasi lebih mengubah dibandingkan satu variabel dapat menyebabkan kesimpulan umum yang salah.

Sebagai contoh karena cairan hipertonis mengurangi tahanan vaskuler sistemik, ejection sistolik ventrikel dapat membaik, berperan untuk menurunkan PAOP, secara teori, oleh karena itu cairan penting untuk menyamakan tekanan hasil pengisian yang dihasilkan oleh cairan koloid.

Apakah dokter secara terus-menerus menggunakan cairan hipertonis atau kombinasi hipertonis/hiperonkotik untuk resusitasi yang akan datang? Selama belum ada keputusan lebih jauh dari kerja praklinik, secara teoritis keuntungan dari penggunaan cairan menunjukkan hal yang sangat atraktif pada resusitasi akut bagi pasien hipovolemik mengurangi komplikasi intracranial.

Loading...